Pengertian Abeyance

Loading...

Apa itu Abeyance?

Abeyance adalah situasi di mana pemilik yang sah dari properti, kantor atau hak belum diputuskan. Abeyance terjadi ketika pemilik atau pemegang saat ini tidak menyatakan penerima manfaat saat ini. Sebaliknya, pemilik baru ditentukan melalui hasil acara tertentu pada suatu waktu di masa depan. Dengan demikian, kepemilikan properti, kantor, atau hak kepemilikan tidak terisi. Abeyance berasal dari kata Prancis Kuno “abeyance”, yang berarti kerinduan atau kesenjangan, dengan harapan di masa depan. Banyak perkebunan ditempatkan di perwalian dengan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum kepemilikan dapat diambil. Misalnya, jika dana perwalian akan diberikan kepada seorang anak begitu ia selesai kuliah, dana tersebut dikatakan berada dalam penundaan sampai tujuan tercapai.

Abeyance juga ada ketika tidak ada orang yang dapat dengan mudah menyatakan kepemilikan di masa depan. Misalnya, perwalian dapat dibentuk oleh orangtua yang tidak memiliki cucu, tetapi suatu hari berharap memiliki cucu, dan berharap untuk menyerahkan dana kepada mereka di masa mendatang. Karena cucu-cucu ini belum ada, hasilnya akan ditahan sampai anak-anak ini lahir.

Apa itu Abeyance
Abeyance

Abeyance dalam kepercayaan wasiat
Kepercayaan wasiat adalah pengaturan hukum yang dibuat sebagaimana ditentukan dalam kehendak seseorang. Itu dibuat untuk mengatasi setiap harta yang terakumulasi selama masa hidup orang itu atau dihasilkan sebagai akibat dari gugatan pascamortem, seperti penyelesaian dalam klaim kelangsungan hidup, atau hasil dari agreement asuransi jiwa yang diadakan di pemukiman tersebut. Suatu kepercayaan dapat dibuat untuk mengawasi aset-aset tersebut. Seorang wali ditunjuk untuk mengarahkan kepercayaan sampai waktu yang ditentukan ketika kepercayaan berakhir, seperti ketika penerima manfaat kecil mencapai usia tertentu atau menyelesaikan suatu perbuatan seperti menyelesaikan tujuan pendidikan yang ditetapkan atau mencapai status matrimonial yang ditentukan.

Baca Juga: Pengertian Abatement

Empat pihak terlibat dalam kepercayaan wasiat. Yang pertama adalah orang yang menentukan bahwa perwalian itu diciptakan, biasanya sebagai bagian dari wasiat, tetapi itu bisa diatur dalam penundaan selama masa hidup orang tersebut. Orang ini dapat disebut pemberi atau pengawas tetapi biasanya disebut sebagai pemukim. Lalu ada wali amanat, yang tugasnya adalah melaksanakan ketentuan kehendak. Mereka disebutkan dalam surat wasiat atau dapat ditunjuk oleh pengadilan wasiat yang menangani wasiat tersebut. Selain itu, ada penerima manfaat atau penerima manfaat, yang akan menerima manfaat kepercayaan. Dan, meskipun bukan merupakan pihak dari perwalian itu sendiri, pengadilan pengesahan hakim merupakan komponen penting dari aktivitas perwalian karena perwalian tersebut mengawasi penanganan perwalian perwalian oleh wali amanat.

Loading...

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *